Sifilis Stadium 1–4: Kenali Gejala, Tahapan, dan Kapan Harus ke Dokter

Ilustrasi pemeriksaan sifilis stadium 1 sampai 4 oleh dokter kulit dan kelamin

Sifilis stadium 1–4 merupakan tahapan perjalanan infeksi sifilis yang perlu dipahami karena gejalanya dapat berubah dari waktu ke waktu. Pada tahap tertentu, sifilis dapat menimbulkan luka atau ruam yang mudah terlihat. Namun, pada stadium laten, seseorang justru dapat tidak mengalami gejala sama sekali.

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penularannya terutama terjadi melalui kontak langsung dengan lesi sifilis saat aktivitas seksual, termasuk hubungan vaginal, anal, maupun oral. Sifilis juga dapat ditularkan dari ibu kepada janin selama kehamilan.

Yang perlu diperhatikan, hilangnya gejala tidak selalu berarti infeksi sudah sembuh. Tanpa penanganan yang tepat, sifilis dapat berlanjut ke tahap berikutnya dan pada sebagian kasus menyebabkan gangguan serius pada berbagai organ tubuh.

Sifilis Stadium 1–4 Itu Apa?

Secara umum, perjalanan sifilis dibagi menjadi empat tahap:

  1. Sifilis stadium 1 atau primer
  2. Sifilis stadium 2 atau sekunder
  3. Sifilis stadium 3 atau laten
  4. Sifilis stadium 4 atau tersier

Pembagian ini membantu dokter memahami perjalanan infeksi, menilai gejala, menentukan pemeriksaan yang diperlukan, serta menentukan penanganan yang sesuai.

Namun, tidak semua orang mengalami gejala yang jelas pada setiap tahap. Bahkan, sebagian penderita tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi.

Ilustrasi pemeriksaan sifilis stadium 1 sampai 4 oleh dokter kulit dan kelamin

Sifilis Stadium 1: Stadium Primer

Sifilis stadium 1 disebut juga sifilis primer. Tahap ini merupakan fase awal setelah bakteri masuk ke tubuh.

Salah satu tanda yang paling khas adalah munculnya luka atau ulkus yang biasanya tidak terasa sakit, yang dikenal sebagai chancre. Luka tersebut dapat muncul di lokasi tempat bakteri masuk ke tubuh.

Lokasinya dapat meliputi:

  • Penis
  • Vagina
  • Area sekitar anus
  • Rektum
  • Mulut
  • Area tubuh lain yang mengalami kontak langsung dengan lesi infeksius

Luka sifilis biasanya berbentuk bulat dan dapat terasa lebih keras pada bagian tepinya. Karena sering kali tidak menimbulkan rasa sakit, penderita dapat menganggapnya sebagai luka biasa atau bahkan tidak menyadarinya.

Menurut WHO, fase primer biasanya berlangsung sekitar beberapa minggu dan luka dapat sembuh sendiri. Namun, hilangnya luka tidak berarti infeksi sudah hilang. Tanpa penanganan, penyakit dapat berkembang ke tahap berikutnya.

Apakah sifilis stadium 1 berbahaya?

Sifilis stadium 1 tetap perlu diperiksa meskipun lukanya kecil dan tidak sakit.

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menunggu luka menghilang dengan sendirinya. Padahal, gejala yang menghilang secara spontan tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa infeksi sudah sembuh.


Sifilis Stadium 2: Stadium Sekunder

Jika sifilis tidak ditangani, infeksi dapat memasuki stadium sekunder.

Pada tahap ini, bakteri telah menyebar lebih luas di dalam tubuh. Gejalanya dapat berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya.

Salah satu tanda yang cukup khas adalah ruam kulit, termasuk pada:

  • Telapak tangan
  • Telapak kaki
  • Badan
  • Area genital
  • Area tubuh lainnya

Ruam sifilis sering kali tidak terasa gatal sehingga dapat disalahartikan sebagai masalah kulit biasa. Selain ruam, beberapa orang dapat mengalami gejala lain seperti demam, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, atau kerontokan rambut.

Pada area yang lembap seperti sekitar anus atau genital, dapat muncul lesi yang lebih lebar dan lembap.

Apakah ruam sifilis selalu terlihat jelas?

Tidak.

Ruam dapat memiliki bentuk yang beragam dan pada beberapa orang cukup ringan sehingga tidak dianggap sebagai sesuatu yang serius.

Inilah salah satu alasan mengapa sifilis dapat sulit dikenali hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan dokter dan pemeriksaan laboratorium dapat diperlukan untuk membantu memastikan diagnosis.


Sifilis Stadium 3: Stadium Laten

Sifilis stadium 3 sering disebut sifilis laten.

Berbeda dengan dua stadium sebelumnya, fase ini dapat berlangsung tanpa gejala yang terlihat. Seseorang mungkin merasa sehat dan tidak mengalami luka maupun ruam.

Namun, hasil pemeriksaan tertentu dapat menunjukkan adanya infeksi.

Stadium laten dapat berlangsung dalam waktu yang panjang. Karena tidak ada keluhan yang jelas, seseorang mungkin tidak mengetahui bahwa dirinya masih memiliki infeksi.

WHO menjelaskan bahwa sifilis yang tidak ditangani dapat bertahan selama bertahun-tahun dan pada sebagian kasus berkembang menjadi penyakit tahap lanjut.

Mengapa sifilis laten perlu diperhatikan?

Karena tidak adanya gejala sering membuat seseorang menganggap masalah sudah selesai.

Padahal, tidak adanya gejala bukan berarti tidak ada infeksi.

Seseorang yang memiliki riwayat paparan seksual berisiko atau pernah mengalami gejala yang mencurigakan sebaiknya mempertimbangkan pemeriksaan medis, terutama jika belum pernah melakukan pemeriksaan sifilis.


Sifilis Stadium 4: Stadium Tersier

Sifilis stadium 4 dikenal sebagai sifilis tersier atau sifilis tahap lanjut.

Tahap ini dapat muncul setelah infeksi berlangsung lama tanpa penanganan yang sesuai. Tidak semua penderita sifilis akan mencapai tahap ini, tetapi jika terjadi, dampaknya dapat serius.

Sifilis tersier dapat memengaruhi berbagai organ dan sistem tubuh, termasuk:

  • Otak dan sistem saraf
  • Jantung
  • Pembuluh darah
  • Mata
  • Telinga
  • Tulang dan sendi
  • Organ tubuh lainnya

WHO menyebutkan bahwa sifilis tahap lanjut dapat menyebabkan gangguan neurologis dan kardiovaskular serta komplikasi berat pada berbagai organ.

Gangguan pada sistem saraf dapat menyebabkan masalah seperti sakit kepala berat, gangguan fungsi saraf, hingga perubahan fungsi kognitif. Sifilis juga dapat melibatkan mata atau telinga.

Yang penting, gangguan neurologis, mata, atau telinga akibat sifilis dapat terjadi pada tahap mana pun, bukan hanya stadium tersier.


Tabel Sifilis Stadium 1–4

StadiumNamaCiri yang Umum
Stadium 1PrimerLuka/ulkus yang sering tidak nyeri pada lokasi masuknya infeksi
Stadium 2SekunderRuam kulit, termasuk telapak tangan dan kaki, serta gejala sistemik
Stadium 3LatenTidak ada gejala yang terlihat, tetapi infeksi dapat terdeteksi melalui pemeriksaan
Stadium 4TersierDapat menyebabkan gangguan serius pada saraf, jantung, pembuluh darah, mata, dan organ lainnya

Perjalanan penyakit tidak selalu berlangsung dengan gejala yang mudah dikenali. Karena itu, pemeriksaan memiliki peran penting dalam memastikan kondisi seseorang.


Penyebab Sifilis

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.

Penularan terutama terjadi ketika seseorang melakukan kontak langsung dengan lesi sifilis selama aktivitas seksual. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral.

Sifilis juga dapat ditularkan dari ibu kepada janin selama kehamilan.

Karena itu, pemeriksaan sifilis juga memiliki peran penting dalam perawatan kehamilan.


Faktor Risiko Sifilis

Risiko terinfeksi sifilis dapat meningkat pada seseorang yang:

  • Melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan yang memadai.
  • Memiliki pasangan seksual baru atau lebih dari satu pasangan.
  • Memiliki pasangan yang diketahui mengalami infeksi menular seksual.
  • Pernah mengalami infeksi menular seksual.
  • Melakukan aktivitas seksual dengan seseorang yang memiliki lesi atau gejala mencurigakan.
  • Tidak melakukan pemeriksaan setelah mengalami paparan seksual berisiko.

Namun, seseorang tidak dapat menentukan dirinya terkena sifilis hanya berdasarkan faktor risiko. Pemeriksaan medis tetap diperlukan.


Bagaimana Sifilis Didiagnosis?

Diagnosis sifilis tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan tampilan luka atau ruam.

Dokter dapat mempertimbangkan:

  1. Riwayat keluhan dan aktivitas seksual.
  2. Pemeriksaan fisik.
  3. Pemeriksaan laboratorium.
  4. Pemeriksaan tambahan bila terdapat tanda yang mengarah pada keterlibatan organ tertentu.

Pemeriksaan darah merupakan salah satu metode yang digunakan dalam diagnosis sifilis. Tes cepat juga tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya sifilis, dokter akan menilai kondisi pasien dan tahap infeksinya untuk menentukan penanganan yang sesuai.


Apakah Sifilis Bisa Sembuh?

Sifilis merupakan infeksi yang dapat disembuhkan apabila mendapatkan penanganan medis yang tepat. Namun, semakin lama infeksi tidak ditangani, semakin besar risiko terjadinya komplikasi.

Penanganan harus disesuaikan dengan tahap penyakit, riwayat pasien, hasil pemeriksaan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Jangan melakukan pengobatan sendiri berdasarkan informasi dari internet karena penanganan sifilis harus ditentukan berdasarkan evaluasi medis.


Apakah Sifilis Bisa Kambuh?

Setelah seseorang berhasil ditangani, seseorang masih dapat mengalami infeksi baru jika kembali terpapar bakteri dari pasangan seksual yang terinfeksi.

Karena itu, pemeriksaan dan penanganan pasangan seksual juga menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penularan kembali.


Komplikasi Sifilis yang Tidak Ditangani

Sifilis yang tidak mendapatkan penanganan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain:

  • Gangguan sistem saraf.
  • Gangguan mata.
  • Gangguan pendengaran.
  • Gangguan jantung dan pembuluh darah.
  • Kerusakan organ tertentu.
  • Gangguan fungsi kognitif.
  • Masalah kesehatan pada kehamilan.
  • Penularan dari ibu kepada janin.

Sifilis juga dapat meningkatkan risiko tertular HIV.


Sifilis pada Kehamilan

Sifilis pada ibu hamil perlu mendapatkan perhatian khusus.

Infeksi yang tidak ditangani atau terlambat ditangani dapat meningkatkan risiko masalah serius pada kehamilan dan bayi, termasuk keguguran, lahir mati, kematian bayi baru lahir, prematuritas, serta sifilis kongenital.

Karena itu, pemeriksaan sifilis selama kehamilan merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan ibu dan anak.


Cara Mencegah Sifilis

Beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko sifilis antara lain:

  • Menghindari hubungan seksual berisiko.
  • Menggunakan kondom secara benar dan konsisten.
  • Membatasi jumlah pasangan seksual.
  • Melakukan pemeriksaan jika memiliki risiko paparan.
  • Tidak melakukan kontak seksual dengan lesi yang mencurigakan.
  • Mengikuti pemeriksaan selama kehamilan.
  • Memberi tahu pasangan seksual jika mendapatkan diagnosis sifilis.

Penggunaan kondom dapat membantu mengurangi risiko penularan, tetapi perlindungannya tidak mutlak karena lesi sifilis dapat berada pada area tubuh yang tidak tertutup kondom.


Kapan Harus ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan apabila Anda mengalami:

  • Luka pada penis, vagina, anus, atau mulut yang tidak biasa.
  • Luka genital yang tidak terasa sakit tetapi sulit dijelaskan penyebabnya.
  • Ruam pada telapak tangan atau kaki.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Keluhan setelah melakukan hubungan seksual berisiko.
  • Pernah memiliki pasangan dengan diagnosis sifilis.
  • Hasil pemeriksaan sebelumnya menunjukkan dugaan infeksi sifilis.
  • Keluhan mata, pendengaran, atau gangguan saraf yang tidak biasa.

Jangan menunggu gejala menjadi berat. Pada sifilis, seseorang dapat berada pada fase tanpa gejala sehingga pemeriksaan menjadi sangat penting.


FAQ Sifilis Stadium 1–4

1. Apa saja stadium sifilis?

Sifilis secara umum dibagi menjadi stadium primer, sekunder, laten, dan tersier.

2. Apa ciri sifilis stadium 1?

Ciri yang paling khas adalah munculnya luka atau ulkus yang biasanya tidak terasa sakit pada lokasi masuknya infeksi.

3. Apa ciri sifilis stadium 2?

Salah satu cirinya adalah ruam kulit yang dapat muncul di berbagai bagian tubuh, termasuk telapak tangan dan telapak kaki.

4. Apakah sifilis stadium 3 tidak memiliki gejala?

Sifilis laten sering tidak menunjukkan gejala yang terlihat. Infeksi dapat diketahui melalui pemeriksaan medis dan laboratorium.

5. Apa yang terjadi pada sifilis stadium 4?

Sifilis tersier merupakan tahap lanjut yang dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem saraf, jantung, pembuluh darah, mata, dan organ lainnya.

6. Apakah luka sifilis yang sudah hilang berarti sudah sembuh?

Tidak. Luka dapat menghilang meskipun infeksi masih ada. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

7. Apakah sifilis bisa sembuh?

Ya. Sifilis merupakan infeksi yang dapat disembuhkan dengan penanganan medis yang sesuai.

8. Apakah sifilis bisa terjadi tanpa gejala?

Ya. Stadium laten khususnya dapat berlangsung tanpa gejala yang terlihat. Karena itu, orang yang memiliki risiko paparan sebaiknya mempertimbangkan pemeriksaan.


Kesimpulan

Sifilis stadium 1–4 terdiri dari stadium primer, sekunder, laten, dan tersier. Stadium pertama dapat ditandai luka yang tidak nyeri, stadium kedua dapat menimbulkan ruam dan gejala lain, stadium laten dapat berlangsung tanpa gejala, sedangkan stadium tersier dapat menyebabkan komplikasi serius pada berbagai organ.

Hal yang paling penting adalah jangan menganggap sifilis sudah sembuh hanya karena luka atau ruam menghilang. Diagnosis perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis dan laboratorium.

Jika Anda memiliki keluhan yang mengarah pada sifilis atau pernah mengalami paparan seksual berisiko, pemeriksaan lebih dini dapat membantu menentukan kondisi dan penanganan yang sesuai.

Periksa Kondisi Anda di Heritage Medical Bekasi

Apabila Anda mengalami luka pada area genital, ruam yang tidak biasa, atau memiliki riwayat hubungan seksual berisiko, jangan menunda pemeriksaan.

Heritage Medical Bekasi menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan berbagai masalah kulit dan kelamin oleh tenaga medis berpengalaman dengan mengutamakan privasi pasien.

Silakan hubungi Heritage Medical Bekasi untuk mendapatkan informasi jadwal praktik atau melakukan reservasi pemeriksaan.

Dokter kulit dan kelamin Bekasi

Pengobatan sifilis di Bekasi

Scroll to Top